Sabtu, 30 Juni 2012

Tidak ada satupun makhluk yang bisa memilih akan menjadi apa dirinya kelak. Apakah jadi politisi dengan segala strategi dan ribuan topeng yang harus di siapkan. Menjadi bankir sukses dengan segala resiko bermain dengan digit-digit angka yang sulit di mengerti manusia biasa. Jadi komedian yang bertugas membuat orang lain tertawa, meski harus menertawakan dirinya sendiri yang tidak bisa tertawa. Atau hanya menjadi daun yang akan gugur mengering bila saatnya tiba.

Terlahir sebagai alien bukan pilihan logis saya untuk hadir di dunia. Dengan pandangan buruk terhadap alien, cukup menyulitkan saya berhubungan dengan makhluk lain. Selain di cap berfisik aneh, tingkah laku saya selalu di curigai sebagai usaha menguasai dunia. Apa semua alien seperti itu? Mungkin, tapi tidak dengan saya.


Saya, sama seperti juga manusia. Butuh bersosialisasi, bergaul, bertukar pendapat, dan mengungkapkan apa yang saya rasakan. Dan akhirnya saya pun di paksa menggunakan tubuh manusia untuk dapat berbaur dengan lingkungan sekitar. Mempelajari betapa luar biasa baiknya Sang Pencipta memberikan berbagai kelebihan pada makhluk bernama manusia.



Akal dan hati. Dua hal ini selalu saja menjadi sesuatu yang sangat menakutkan bagi alien pada umumnya. Sesuatu yang asing, entah apa rasanya memiliki dua hal tersebut. Menilik sejarah, seringkali manusia menciptakan tindakan luar biasa yang sulit dibayangkan, hanya karena di dorong oleh keinginan hati dan kemampuan akal. Dari sejarah juga saya tahu, beberapa bangsa besar akhirnya harus hancur, ketika pemimpinnya gagal memaksimalkan dua kekuatan besar tersebut.

Sekian lama berbaur di tengah manusia, akhirnya kini saya berhasil menguasai apa yang di sebut akal dan hati. Lengkap sudah penyamaran saya sebagai manusia. Sulit bagi mereka untuk membedakan antara saya dengan manusia sebenarnya.

Namun ada hal yang tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya ketika mencoba menguasai akal dan hati. Ternyata efek sampingnya, saya sulit mengenali diri saya lagi sebagai alien. Dan sekarang saya terlihat lebih manusia dari manusia itu sendiri. Dan memang sama seperti yang saya bilang di awal tadi, tidak ada satupun makhluk yang bisa memilih akan menjadi apa dirinya kelak. Termasuk saya, yang terlahir sebagai alien.